Relationship

Pamer Kemesraan di Medsos Belum Tentu Bahagia, Ini Alasan Kuat Kamu Gak Perlu Lakukan Hal yang Sama

pasangan-langgeng

Jengkel melihat temanmu sering mengunggah foto kemesraan dengan pacarnya di media sosial? Mungkin saat ini dia sedang merasakan indahnya romansa cinta, dunia serasa milik berdua sehingga tidak tahan untuk “pamer” kebahagiaan pada orang banyak lewat akun media sosial miliknya.

Tapi benarkah momen bahagia yang selalu mereka posting benar-benar menujukan kebahagiaan?  Faktanya menurut penelitian justru pasangan yang jarang atau tidak pernah posting status di media sosial lebih bahagia daripada mereka yang sering.

Fakta ini diungkap oleh salah satu media di Amerika mengungkapkan, pasangan bahagia umumnya akan menahan diri untuk mempublikasikan apapun tentang hubungan mereka di media sosial. Kenapa? Karena mereka akan fokus pada hubungan yang sedang dijalaninya dan melakukan yang terbaik untuk kepentingan bersama, mereka tidak butuh pengakuan dari orang lain tentang hubungan yang sedang dijalani saat ini.

WAKTU TERLALU SEDIKIT JIKA DIGUNAKAN HANYA UNTUK POSTING KEMESRAAN DI SOSIAL MEDIA, SEDANGKAN KAMU MASIH BUTUH WAKTU YANG BANYAK UNTUK TERUS MEMBAHAGIAKANNYA

Jika kamu benar-benar serius mencintainya, kamu hanya akan fokus bagaimana terus membuat pasangan yang kamu cintai measa bahagia secara nyata. Kamu akan sibuk mencari cara agar bisa tetap bersama dan selalu bahagia.

Bayangkan, jika waktu yang hanya sedikit ini kamu pakai untuk update status –yang-sebenanrnya-gak-penting-amat- harus terbuang percuma hanya karena kamu ingin dapat pengakuan dari orang lain terkait kebahagiaan yang kamu rasakan sekarang. Padahal tiap 1 menit yang kamu pakai untuk main media sosial bisa kamu manfaatkan untuk lebih memahami pasangan. Memahami pasangan, mengenal karakternya lebih dalam jauh lebih penting sehingga kamu tahu cara untuk membuatnya bahagia saat berada disampingmu.

ORANG YANG JARANG MENGECEK MEDIA SOSIAL YANG DIMILIKINYA LEBIH BAHAGIA

Sebuah riset yang dilakukan oleh Denmark Happiness Research Institute mengungkapkan orang-orang yang tidak memakai Facebook selama seminggu mengalami peningkatan kepuasan dalam hidupnya. Orang-orang yang jarang menggunakan media sosial ini menjadi lebih banyak bertemu banyak orang dan bersosialisasi dengan orang lain di dunia nyata dan merasa lebih hidup.

Sebaliknya, dari penelitian ini orang-orang yang sering menggunakan Facebook akan lebih mudah merasa marah, depresi, dan kekhawatiran. Perasaan buruk ini akan berpengaruh buruk terhadap hubungan spesial yang sedang kalian dijalani.

PASANGAN YANG BENAR BAHAGIA TIDAK PERLU PENGAKUAN ORANG LAIN, MEREKA AKAN BAHAGIA KETIKA SUDAH BISA MENGISI SATU SAMA LAIN

Hubungan yang kalian jalani saat ini menjadi urusan kalian berdua. Kalian berdualah yang menrasakan suka-duka hidup bersama.

Ketika kalin mem-posting momen kebersamaan kalian di Facebook, Instagram, atau Path mungkin sebagian teman akan menyukainya, namun sebagian besar lainnya tidak peduli. Setengah atau mungkin hanya ¼ bagian saja di Facebook yang merupakan teman atau orang yang kamu benar-benar kenal, sisanya adalah orang lain yang bahkan kalian tidak pernah temui. Lalu mengapa masih mau berbagi kebahagiaan dengan orang yang bahkan kamu tidak ketahui ada wujudnya atau enggak?

KEBAHAGIAAN SEJATI DIPEROLEH DARI KEBERSAMAAN ATAU KOMITMEN YANG DIJALIN, TIDAK PERLU KOMENTAR ORANG LAIN UNTUK BISA MERASAKAN HAL ITU

Kebanyakan orang mem-posting sesuatu di akun media sosial miliknya, pasti ingin sekali mendapatkan komentar atau minimal satu like. Jika tidak yang komentar atau like, hampir dipastikan orang tersebut akan mengalami depresi karena  terlalu sering mengandalkan pendapat orang lain untuk diakui. Satu komentar atau like yang didapatkan berpengaruh besar terhadap psikologi seseorang yang sudah kecanduan media sosial.

Ini pun berlaku pada pasangan yang sering mengumbar kemesraan di media sosial, ketika mereka meng-upload foto berdua tentunya yang mereka harapkan ada orang lain yang like atau komentar sebagai tanda bahwa ada orang lain yang peduli akan kebahagiaan yang sedang dirasakan.

Padahal, tidak perlu adanya kegiatan pamer kemesraan di media sosial pun seseorang bisa bahagia jika fokus pada kebersamaan atau komitmen yang sedang dijalin bersama orang yang dicinta.

Tengok saja, orang tua kita di zaman dahulu, mereka tetap bahagia dan langgeng sampai sekarang meskipun di masa muda mereka tidak ada Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan medsos lainnya.

PASANGAN YANG JARANG MUNCUL DI MEDIA SOSIAL HUBUNGANNYA LEBIH SEHAT

Sungguh, menjalin hubungan secara offline dan meningkatkan intensitas keintiman di dunia nyata jauh lebih penting daripada terus-menerus muncul ke hadapan publik di dunia maya. Ketika kamu dan  kekasih lebih rutin melakukan kedekatan secara offline justru hubungan jauh lebih sehat.

Sadarkah kamu, jika terlalu sering meng-upload foto berdua dengan pacar di medsos, banyak orang yang tiba-tiba ingin kepo tentang kehidupan kalian berdua. Setiap momen, tak pernah mereka ingin leawtkan karena kamu menyuguhkan hubunganmu untuk menjadi konsumsi publik. Begitu pun ketika ada masalah dengan pacar lalu kamu meng-update kejadian tersebut di akun medsos kamu. Pasti banyak orang yang bertanya-tanya, “Kenapa ya?”, “Kok bisa?”, dan sebagainya.

Ketika ada masalah terjadi dalam hubungan percintaan, pasangan yang jarang mengumbar kemesraan di medsos tidak merasa perlu ‘curhat’ pada orang banyak lewat akun sosial miliknya. Mereka akan mencoba menyelesaikan konflik secara pribadi tanpa perlu orang lain tahu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Spirituality

Maafkanlah, Maka Tuhan Akan Memberimu Lebih Banyak Kebahagiaan

Kebahagian dan kesedihan adalah dua hal yang silih berganti menemani kehidupan selama denyut nadi masih ada. Hakeket manusia sebagai makhluk sosial membuatnya harus berinteraksi dengan orang-orang yang berada dilingkungannya. Sayangnya, komunikasi itu tak selamanya mulus. Kadang muncul gesekan yang membuat hubungan jadi renggang.

Sebagai makhluk yang tak sempurna, sesekali manusia memang melakukan kesalahan. Terkadang kamu berada disubjek yang melakukan kesalahan, namun tak menutup kemungkinan kamu menjadi objek penderita atas kesalahan yang dilakukan orang lain. Tak bisa dipungkiri, saat kamu mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari orang lain, kamu akan merasa tidak nyaman. Bahkan bisa saja akan memunculkan rasa sakit hati tak berkesudahan yang bisa berujung pada dendam.

Menyimpan rasa sakit hati dan dendam sesungguhnya hanya akan membuat hati kamu tidak tenang. Bagaimana kamu bisa merasakan damai bila di dalam hatimu tersimpan bara yang sewaktu-waktu bisa membakar kamu? Tidak ingin hal itu terjadi bukan? Maka maafkanlah mereka yang pernah menyaktimu. 4 kebaikan ini hanya akan kamu dapatkan setelah kamu ikhlas memberi maaf.

Tak Ada Gunanya Menyimpan Dendam Dalam hati. Maafkanlah, Agar Kebahagiaan Menghampiri Hidupmu

Dengan memberi maaf berarti kamu telah melepaskan sesuatu yang selama ini menjadi bara dihatimu. Memafkan akan membuat kamu menjalani hidup dengan lapang. Kamu akan merasa lebih ringan melangkah. Dengan hati yang jauh lebih ringan, maka kebahagiaan pun akan lebih mudah diraih. Untuk apa terus menyimpan dendam dalam hati jika hanya menghalangi datangnya kebahagiaan?

Memberi Maaf Berarti Memperbaiki Hubungan. Hidupmu Pun Akan Terasa Damai

Sifat memafkan akan membuat hubungan horizonalmu lebih baik. Tidak memiliki sifat keras kepala dan pendendam akan membuat kamu memiliki banyak teman. Selain itu hubunganmu dengan pasangan akan langgeng. Dengan demikian hidupmu pun akan terasa lebih damai.

Memaafkan Dapat Menghindarkan Kamu Dari Stres. Pikiranmu Pun Jauh Lebih Produktif

Ketika kamu telah ikhlas memaafkan berarti saat itu pula kamu telah melepas rasa sakit hati dan dendam yang membuat pikiranmu tidak tenang. Kamu telah melakuka tindakan tepat. Tak ada gunanya memang menyimpan amarah dalam hati. Tidak hanya hati kamu yang akan merasa lelah, tubuh kamu juga turut merasakan imbasnya.  Bukankah tak ada gunanya mengingat-ingat hal yang telah berlalu? Apalagi bila hal itu hanya membuatmu tak nyaman.

Amarah Akan Membuat Tubuhmu Harus Bekerja Lebih Keras. Demi Kesehatanmu Maka Maafkanlah

Amarah membara yang disimpan akan memberikan pengaruh negatif pada tubuhmu. Aliran darah meningkat, otot menegang dan muncul keringat berlebihan. Memendam amarah hanya akan memberikan pengaruh negatif pada tubuhmu. Bahkan bisa mengakibatkan kamu sakit. Memaafkan akan membuat kamu merasa jauh lebih baik. Tentu kebaikan tersebut hanya akan kamu dapatkan setelah kamu benar memaafkan dengan hati.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Spirituality

Tak Perlu Merasa Bersalah Untuk Melakukan 5 Hal Ini Jika Memang Bisa Membuatmu Nyaman

Kebanyakan orang merasa cemas terhadap segala hal yang sebenarnya tidak perlu dicemaskan. Seperti merasa bersalah karena telah melakukan hal yang tidak banyak dilakukan oleh orang-orang. Banyak orang yang masih merasa takut jika melakukan hal yang diluar kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Takut dianggap aneh, menyalahi aturan, dan sebagainya.

Padahal kamu pun berhak memutuskan dan menentukan apa pun yang ingin kamu lakukan. Selama masih dalam batas kewajaran dan tidak melanggar hukum yang berlaku, sebenarnya sah-sah saja. Setiap orang punya hak untuk bebas dalam berpendapat dan berperilaku.

Jika kamu sering melakukan 5 hal di bawah ini, sekarang saatnya untuk berhenti merasa cemas dan bersalah!

Tiap Orang Butuh ‘Me Time’ Dan Tidak Ingin Diganggu Oleh Siapa Pun

Jangan pernah merasa bersalah jika lagi ingin sendirian atau butuh ‘me time’ untuk diri sendiri. Tidak perlu merasa tidak enak ketika teman mengajak untuk berkumpul tetapi kamu tidak ingin melakukannya karena sedang butuh waktu untuk sendiri.

Tak perlu sungkan menolak ajakan teman, jika kamu butuh waktu sendirian. Katakan pada mereka kamu akan ikut bergabung di lain waktu. Melakukan ‘me time’ memang sesekali diperlukan untuk bisa terhindar dari stres atau rutinitas sehari-hari. Jangan sampai ada seorang pun bahkan teman terdekatmu mengganggu ritual ‘me time’ ketika kamu sedang membutuhkannya.

Selektif Dalam Pertemanan Dan Tidak Lagi Berhubungan Dengan Orang-orang Tertentu

Setiap orang berhak menentukan siapa saja yang akan menjadi temannya. Selektif dalam memilih teman itu perlu agar kita tidak terjebak dalam hal-hal yang negatif. Jadi, jika kamu terpaksa mengeliminasi atau tidak ingin berhubungan lagi dengan beberapa orang tertentu, itu adalah hak sepenuhnya.

Terkesan kejam dan menyeramkan ya? Tapi tidak perlu merasa bersalah, kamu melakukan ini bukan hanya demi kepentingan kamu sendiri, tetapi juga demi kepentingan hidupnya. Kalau memang sudah tidak cocok lagi berteman atau saling bekerja sama, untuk apa lagi berhubungan? Untuk apa berhubungan jika saling membenci?

Mengatakan Tidak Pada Sesuatu Yang Tak Ingin Kamu Lakukan

Jangan merasa bersalah karena kamu mengatakan tidak atau menolak tawaran pekerjaan karena kamu memang tidak mau melakukannya. Totalitas dan ketulusan akan lebih terwujud dan terlaksana saat benar-benar diinginkan.

Banyak orang sukses berani mengatakan tidak pada segala hal, daripada harus melakukan sesuatu yang tidak bisa dikerjakannya. Jangan takut dianggap orang yang jahat karena menolak suatu tawaran dari orang lain. Kamu hanya akan menyesal dan merasa tidak nyaman jika menerima tawaran yang sebenarnya tidak bisa kamu lakukan.

Merasa Mempunyai Kemampuan Dibidang Tertentu

Setiap orang dilahirkan dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jadi, jika kamu punya bakat khusus tertentu jangan merasa minder! Pelihara dan kembangkan kemampuan alami yang ada di dalam dirimu!

Jangan pernah merasa sungkan karena kamu lebih baik dibanding orang lain. Jika ada yang iri padamu, acuhkan saja mereka. Mereka yang iri pada kelebihan dirimu sebenarnya adalah orang yang tidak mampu.

Saat ini masih banyak orang yang malu mengeluarkan atau menunjukan kemampuan yang dimilikinya di depan umum. Ini dikarenakan karena takut kemampuan atau kelebihannya dicemooh oleh orang lain, tidak disukai oleh orang lain, atau karena tidak percaya diri. Tunjukkan kemampuanmu! Yakinkan diri bahwa kelebihan yang kamu miliki bukanlah suatu kesalahan!

Mati-matian Mempertahankan Pendapat Yang Kamu Yakini Benar

Seseorang biasanya dibenci karena terlalu memegang teguh pendapat yang diyakininya. Seorang yang mempertahankan pendapatnya seringkali dianggap keras kepala dan berpikiran tidak terbuka. Kamu tidak perlu merasa bersalah jika orang lain tidak menyetujui pendapatmu. Orang yang berbeda pendapat itu biasa, karena itulah perbedaan.

Jika ada orang lain yang tidak suka karena kamu terlalu kekeuh mempertahankan pendapatmu, biarkan saja. Toh, pendapatmu juga tidak mengganggu mereka.

 

Bagaimana, apakah kamu pernah merasa bersalah saat melakukan hal-hal di atas? Jika iya, sebaiknya nukai sekarang kamu tidak perlu merasa bersalah lagi. Karena sebenarnya hal-hal di atas adalah hal yang umum terjadi dan banyak orang yang melakukannya.

Kamu bebas berekspresi dan menentukan jalan hidupmu sendiri. Intinya, kamu tidak perlu takut jika berbeda dengan orang-orang yang ada di sekelilingmu.

Percaya diri dan yakin bahwa tindakanmu ini tidak melanggar aturan apa pun akan membuatmu tidak ragu-ragu lagi dalam mengambil sikap. Yuk jadi diri sendiri mulai dari sekarang!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Spirituality

Sekalipun Untuk Kebaikan, Kebohongan Tetap Saja Merugikan Dan Tak Bisa Dibenarkan

Ketika kita menyadari bahwa tidak selalu apa yang diinginkan sesuai dengan ekspetasi yang selama ini menghiasi angan. Sama halnya dengan kenyataan yang tidak selalu menyenangkan. Pada dasarnya kita tahu akan hal itu, tapi ego hati tetap saja tidak bisa menerima, menghindari sebisa mungkin rasa sakit yang ada. Menyenangkan hati sebisa mungkin sekalipun memungkiri kenyataan dan kebenaran.

Kita sadar jika tidak ada satu orang pun ingin bersedih atau bahkan merasa tersakiti. Rasanya karena kesadaran akan hal itu membuat kita juga tidak ingin menyakiti siapa pun dengan kenyataan yang tidak menyenangkan, atau bahkan ingin menutupi segala kesalahan yang diperbuat sehingga kebohongan menjadi salah satu jalan dan menjadi sebuah pembenaran.

Berbohong untuk kebaikan menjadi salah satu alasan untuk kita membenarkan perbuatan itu, lalu akankah yang kita lakukan memang benar-benar baik, dan apakah semua hal yang ditutupi oleh kebohongan akan menjadi lebih baik?

Segala Hal Besar Dimulai Dari Hal Kecil, Begitu Juga Dengan Sebuah Kebohongan

Istilah kecil-kecil menjadi bukit rasanya menyenangkan jika hal itu adalah suatu hal yang memang baik. Tetapi apa jadinya jika ternyata hal itu adalah sebuah penyakit ganas, yang perlahan tetapi pasti menggorogoti tubuh kita tanpa disadari. Rasanya sebuah kebohongan sama halnya dengan penyakit ganas, tidak terdeteksi dan dimulai dari hal kecil kemudian bisa kapan saja menghancurkan hidup dalam waktu sekejap.

Dari kebohongan kecil, yang ternyata membantu kita untuk menutup kesalahan dan memang mendapatkan respon yang baik dari sebuah kebohongan kecil. Membuat kita semakin menutupi kebohongan kecil itu dengan kebohongan yang lainnya hingga menjadi sebuah kesalahan yang tak terkendalikan. Membuat kita menjadi terlena hanya karena ingin menyenangkan orang lain dan menutupi kekurangan diri atas ketidaksempurnaan sebagai manusia

 

Bukankah Kebahagiaan Itu Diciptakan Diri Sendiri, Lantas Apa Dengan Berbohong Hidupmu Benar-benar Bahagia?

Bahagia itu bisa hadir dari hal-hal kecil dan sederhana, mensyukuri segala pemberian Tuhan dengan penuh penerimaan untuk segala rasa, bahagia atau bahkan sedih. Rasanya hal-hal yang tersebut menjadi dambaan bagi setiap jiwa yang masih merasakan hidup, ketenangan hati akan setiap detik yang dijalani tanpa merasa bersalah akan hal apa pun, karena menyadari semua adalah ketetapan-Nya.

Dan untuk sebuah ketidakjujuran, apakah benar-benar bisa membahagiakan diri? Mungkin bisa menyembunyikan sementara, tetapi apa hatimu akan merasa tenang dan terhindar dari perasaan bersalah karena menutupi kesalahan dengan kesalahan lainnya yang terlihat seolah benar. Ketika mempertahankan suatu yang salah untuk tetap menjadi sebuah kebenaran kegelisahan dan khawatir akan terus menyelimuti sampai kapan pun dan berakhir menyedihkan karena diri jauh dari ketenangan jiwa.

 

Lalu Apa Yang Akan Terjadi Bila Seseorang Tahu Telah Dibohongi? Akankah Semua Tetap Sama Atau Menjadi Lebih Buruk Dari Sebelumnya

Apa yang terlintas didalam benak, saat menyebutkan apa yang membuat manusia satu dan lainnya berhubungan baik untuk waktu lama? Jika salah satu jawabannya adalah sebuah kepercayaan, lalu apa jadinya jika kepercayaan tersebut dirusak oleh sebuah kebohongan yang terbongkar. Tentu hanya akan berujung pada kekecewaan dan kemarahan.

Jika memang benar berbohong demi kebaikan itu tak masalah, lalu mengapa semua orang merasa marah saat mengetahui dirinya dibohongi? Jika memang benar kebohongan menyelamatkanmu, lalu apa benar-benar menyelamatkanmu dari masalah yang lebih besar ketika mereka yang kita bohongi tahu akan sebuah kebenaran yang ditutupi oleh kebohongan.

Seandainya berbohong itu tidak merugikan, maka semua orang akan bahagia dan baik-baik saja saat tahu dirinya dibohongi oleh orang lain dan orang yang melakukan kebohongan akan bahagia dan  tak merasa bersalah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top