Spirituality

Kini Saatnya Kamu Berhenti Mengeluh, Sebelum Kualitas Hidupmu Jadi Taruhannya

Hidup memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada hal-hal yang memang terjadi diluar kendali. Belum lagi ketika kamu dihadapkan dengan kondisi dan pilihan yang sulit. Sementara orang-orang diluar sana terlihat begitu menikmati hidup tanpa masalah yang berarti.

Kamu boleh saja mengeluh. Mungkin saja dengan mengeluh dan berbagi beban, kamu akan merasa sedikit lega. Namun, kamu juga harus paham, mengeluh juga tidak akan mengubah hidupmu. Terlalu sering mengeluh bisa saja membuat orang ill feel denganmu. Bahkan mengeluh bisa mendatangkan 5 kerugian ini padamu.

Mengeluh Justru Akan Membuatmu Semakin Terlihat Lemah

Hidup adalah pilihan. Kamu bisa memilih untuk mengeluh atau menghadapi semuanya dengan tegar. Dengan mengeluh kamu memilih untuk membeberkan masalah dan kegelisahanmu pada orang lain. Akibatnya orang lain akan tahu kelemahanmu. Bukan tak mungkin mereka malah akan diam-diam menertawakanmu.

Kalau sudah begini, bisa saja orang lain menganggap kamu lemah. Kamu dianggap kurang tegar dalam menghadapi masalah yang menurut mereka sepele. Jadi, berhentilah mengeluh mulai dari sekarang. Bangun dan lakukan sesuatu untuk mengubah hidupmu!

Kamu Jadi Kian Jauh dari Tuhan

Mengeluh secara tidak langsung menunjukkan seolah-olah kamu kurang bersyukur pada karunia Tuhan. Padahal Tuhan telah memberikan banyak nikmat untuk kamu. Ujian yang kamu hadapi adalah salah satu cara Tuhan agar kamu semakin dekat dengan-Nya, namun hal itu hanya akan terjadi bila kamu bisa bersyukur dan mengambil hikmah dari setiap ujian. Bila kamu lebih memilih mengeluh, kamu malah akan semakin jauh dari Tuhan.

Hobi Mengeluh Hanya Akan Membuatmu Dijauhi Banyak Orang. Siapa yang Akan Tahan Berdekatan dengan Orang yang Terus Mengeluh?

Bukan hanya semakin jauh dari Tuhan, terlalu sering mengeluh hanya akan membuatmu dijauhi orang. Siapa juga yang akan tahan berteman dengan orang yang hanya bisa menngeluh dan selalu menuntut untuk didengarkan. Hubungan akan berjalan baik bila bisa terbangun komunikasi dua arah yang seimbang. Namun kalau kamu terus mengeluh, komunikasi yang baik pun mustahil akan terbangun.

Jangan heran bila kemudian satu per satu teman-temanmu menjauh dari dirimu. Hal itu wajar sih, sebab dengan kebiasaanmu yang gemar mengeluh, bisa saja kamu dianggap tak bisa memberikan pengaruh baik pada pertemanan. Jadi jangan heran bila kamu perlahan kehilangan teman-temanmu

Mengeluh Bisa Menimbulkan Penyakit Psikis. Stop Mengeluh dari Sekarang,  Deh!

Mengeluh hanya akan membuat kepala kamu dipenuhi pikiran negatif. Kamu pun akan sulit berpikir jernih. Masalah sepele bisa saja terlihat sebagai penderitaan besar. Pikiran jadi gelap, kebahagiaan pun akan terasa sangat jauh.

Bahkan lama-kelamaan, kebiasaan mengeluh akan membuatmu frustasi. Menghasilkan pikiran buruk, perilaku negatif, dan hasil yang jelek. Oleh karena itu, sebaiknya kamu berhenti mengeluh dari sekarang sebelum semuanya terlambat dan kamu terlanjur terpapar efek negatifnya.

Bahkan Mengeluh Juga Akan Meningkatkan Resiko Tubuhmu untuk Sakit

Orang yang terlalu sering mengeluh ketahanan tubuhnya akan menurun, sebaliknya orang yang memiliki sikap hidup optimis akan memiliki kekebalan tubuh yang cenderung lebih bagus. Hal ini bisa terjadi karena orang yang kerap mengeluh biasanya akan rentan didera stres dan frustasi.

Dalam kondisi seperti itu bukan tidak mungkin, tubuh akan lebih rentan penyakit. Belum lagi resiko terkena hipertensi bila pikiran negatif terus menguasai. Tentu kamu tak mau ‘kan jika kualitas hidupmu jadi menurun karena kebiasaanmu yang suka mengeluh itu?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Inspiration

Ini Bahayanya Jika Anak Dibebani Terlalu Banyak PR dari Sekolah!

http://health.detik.com/read/2014/03/29/140514/2540508/1301/hati-hati-ini-dampak-buruk-jika-anak-stres-karena-pr

Bermain adalah hak anak. Idealnya anak-anak mendapat cukup waktu untuk bermain. Selepas pulang sekolah adalah waktu yang yang diharapkan bisa digunakan anak-anak untuk bermain-main. Sayangnya tidak semua anak bisa merasakan hal itu.

Bila guru memberi PR terlalu banyak, anak jadi tak bisa bermain sepulang sekolah, PR yang banyak menuntut anak untuk tetap berkutat dengan pelajaran sekolah sekalipun mereka telah berada di rumah. Kalau sudah begini alih-alih meningkatkan prestasi anak, PR yang terlalu banyak justru memberikan dampak negatif bagi anak.

Anak-anak yang Terlalu Banyak Mengerjakan PR Memiliki Resiko Obesitas Lebih Tinggi

Beban PR yang terlalu banyak akan membuat anak kehilangan kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik. Selepas jam sekolah pun mereka harus tetap memeras otak untuk menyelesaikan PR yang diberikan oleh guru. Kalau sudah begini bisa dipastikan tingkat stres mereka akan jadi lebih tinggi. Kalau sudah begini, kecenderungan untuk gemuk pun akan jadi lebih besar.

Hal ini terjadi karena seseorang yang tengah dalam kondisi stres atau kurang tidur biasanya cenderung akan makan lebih banyak karena pengaruh hormon. Kondisi ini semakin diperparah oleh minimnya kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik. Kalau sudah seperti ini, resiko obesitas pun jadi kian tinggi.

Beban PR yang Kelewat Banyak Bisa Mengakibatkan Anak Lebih Mudah Sakit

Sudah bukan menjadi hal yang aneh lagi, beban PR yang banyak secara otomatis membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih lama. Konsekuensinya jam tidur anak jadi berkurang. Padahal berkurangnya jam tidur biasanya diikuti dengan melemahnya daya tahan tubuh. Dalam kondisi seperti ini anak akan lebih mudah terserang penyakit.

Pekerjaan Rumah yang Terlalu Banyak Tak Hanya Membuat Anak Rawan Stres, Seluruh Anggota Keluarga Juga Terkena Imbasnya

Dalam kondisi tertentu, anak kadang perlu didampingi saat mengerjakan PR. Mengerjakan PR yang kelewat banyak tidak hanya menjadi beban bagi anak, orang tua atau pengasuh pun bisa saja ikut stres. Belum lagi bila anak sakit, seisi rumah pun akan direpotkan.

Memberi PR berlebihan pada anak memang tidak efektif. Bukan saja menempatkan anak dalam kondisi yang rentan stres. Hal ini juga memiliki pengaruh negatif terhadap kesehatan anak. Kalau sudah begini, perlu dilakukan komunikasi antara orang tua dan guru demi mendapatkan pola pembelajaran yang tepat untuk anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Business

Ternyata, Kecerdasan Emosional Jadi Faktor Penting Kesuksesan di Tempat Kerja

Pernahkah kamu mendengar pernyataan bila kecerdasan intelegensi tidak seberapa hebat dibandingkan dia yang mempunya kecerdasan emosi yang besar. Suatu penelitian yang dilakukan Carneigie Institute of Technology menunjukkan bahwa 85% kesuksesan finansial seseorang adalah karena kemampuan humanis. Seperti kepribadian dan kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi dan memimpin, sementara itu pengetahuan teknis mengambil porsi 15%. Hal tersebut sudah membuktikan bahwa kecerdasan emosi seseorang sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang.

Dalam sebuah survey builder career 2011 yang melibatkan lebih dari 2.600 manager perekrutan dan sumber daya manusia, 71% cenderung menyatakan bahwa mereka menghargai kecerdasan emosional pada karyawan yang melebihi IQ 75% mengatakan bahwa mereka lebih cenderung mempromosikan pekerja yang sangat emosional, dan 59% mengaku mereka telah melewatkan kandidat dengan IQ tinggi namun kecerdasan emosionalnya rendah.

Lalu adakah hubungannya perusahaan menempatkan standar yang tinggi untuk kecerdasan emosi. Kenapa kecerdasan emosi sangat penting dan berpengaruh besar terhadap pekerjaan?

Saat Masalah Datang, Mereka yang Memiliki Kecerdasan Emosi akan Menanggapinya dengan Tenang

Tekanan pada saat bekerja akan sangat sulit dihindari oleh siapa pun. Dan untuk menghadapi tekanan di tempat kerja dibutuhkan kemampuan untuk mengelola emosi kita. Orang yang memiliki tingkat kecerdasan emosi yang tinggi lebih mengetahui batasan diri mereka dan itu membuat mereka lebih mampu mengelola tingkat stresnya. Mereka cenderung memiliki cara yang baik untuk menangani tekanan sehingga bisa tetap bekerja secara efektif di situasi sulit sekalipun.

Orang yang Memiliki Kecerdasan Emosi akan dengan Mudah Memahami dan Bekerja sama dengan Orang Lain

Dalam dunia kerja kita tidak mungkin bekerja secara individual secara terus-menerus. Ada saatnya kita harus kerja tim dan hal itu sangat penting di tempat kerja, orang-orang yang mampu memahami dan bergaul dengan orang lain akan semakin dicari. Keistimewaan dari orang yang memiliki kecerdasan emosi adalah mereka memiliki kemampuan orang-orang yang berkembang dengan baik sehingga memungkinkan dirinya membangun hubungan dengan beragam sifat orang.

Pendengar yang Baik Adalah Salah Satu Keahlian Mereka yang Memiliki Kecerdasan Emosi

Menjadi pendengar yang baik adalah salah satu pekerjaan yang agak sulit bagi sebagian besar orang. Kecenderungan ingin dimengerti dan didengar oleh orang lain, membuat seseorang lebih sulit jika harus menjadi pendengar. Tetapi untuk orang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk mendengarkan orang lain.

Hal itu dimungkinkan karena mereka berada dalam posisi yang lebih baik untuk menyingkirkan emosi dan keinginan mereka sendiri dan pertimbangan orang lain. Kemampuan mereka untuk menangkap emosi orang melalui nada suara dan bahasa tubuh sangat berguna dalam pengaturan tim.

Disaat Orang Lain Kesal Jika Mendapatkan Kritik, Tidak Berlaku untuk Mereka yang Punya Kecerdasan Emosi yang Baik

Saat kita melakukan sesuatu yang ternyata ada mendapatkan kritikan dan masukan yang tajam kepada diri kita, sebagian besar orang mungkin tidak akan terima dengan perlakuan yang demikian. Rasa marah atau bahkan menyerah bisa merasuki perasaan mereka, dan kemudian menjadi down.

Sayangnya kamu tidak akan pernah menemukan hal ini pada orang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik. Mereka tidak akan memberikan sikap defensif, justru mereka akan dengan terbuka menerima hal itu sebagai sebuah perbaikan, dan terlihat sebagai orang yang positif.

Membuat Keputusan yang Lebih Bijaksana dan Menyeluruh adalah Keahlian Bagi Mereka yang Memiliki Kecerdasan Emosi yang baik

Orang cerdas secara emosi cenderung melihat segala sesuatu dengan jelas dari sudut pandang orang lain, mereka dapat membuat penilaian yang lebih baik tentang bagaimana keputusan mereka akan berdampak kepada orang lain. Hal ini tidak hanya menghasilkan pengambilan keputusan secara menyeluruh, namun juga membantu mengelola pengendalian kesalahan saat keputusan tertentu menimbulkan konsekuensi negatif. Kecerdasan secara emosi akan membantu untuk berpikir secara proaktif bukan reaktif, dan itu menguntungkan untuk mengambil keputusan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Spirituality

Mendengarkan Lagu Ini Akan Membuat Tingkat Kecemasanmu Berkurang hingga 65%.

Apakah kamu pernah mendengar pernyataan yang mengatakan jika pikiranmu sehat tetapi fisikmu sakit, maka tingkat penyembuhannya akan semakin cepat. Tetapi jika pikiranmu tidak sehat maka kamu bisa sakit meskipun sebetulnya sehat. Dan mungkin kamu juga sudah pernah mendengar ada orang yang merasa tubuhnya sakit, tetapi ketika diperiksakan ke dokter dia baik-baik saja. Pernyataan dalam kalimat tersebut sebenarnya menjelaskan bagaimana kekuatan pikiran memengaruhi kondisi fisik kita.

Kecemasan Menjadi Salah Satu Emosi yang Paling Melumpuhkan

Sebenarnya apa sih kecemasan itu? Kecemasan adalah sebuah kondisi takut terhadap objek (sumber kecemasan) yang tidak jelas. Kecemasan sangat mirip dengan kekhawatiran, yakni merasa takut atau berpikir negatif (berpikir buruk) yang berlebihan atas sesuatu yang belum atau sebetulnya sudah terjadi.

Setiap manusia memiliki kecemasan dalam hidupnya, akan tetapi jika kecemasan ini terjadi secara terus-menerus dan berkepanjangan akan berdampak kepada fisik kita. Kecemasan dapat menjadi salah satu emosi yang paling melumpuhkan. Dan itu berpengaruh terhadap pemikiran irasional yang menyebabkan ketakutan dan panik. Apa kamu pernah panik? Tahukah kamu, menurut penelitian, ketika didera panik respon tubuh kamu sama seperti saat sedang dalam kondisi sekarat.

Setidaknya Sepertiga dari Wanita Muda dan Sepersepuluh Pemuda Mengalami Serangan Panik secara Teratur

Sebenarnya kecemasan memang sudah dialami manusia dari jutaan tahun yang lalu, namun tingkat kecemasan yang dialami orang-orang semakin bertambah pada zaman sekarang ini, khususnya dikalangan anak muda. Sebuah penelitian di tahun 2013 mengatakan bahwa 57% mahasiswi Amerika mengalami tingkat “kecemasan akut”. Lembaga amal yang berbasis di Inggris ‘youthnet’ menemukan bahwa setidaknya sepertiga dari wanita muda dan sepersepuluh dari pemuda mengalami serangan panik secara teratur.

Faktor Teknologi, Orangtua yang  Overprotektif, Ujian Sekolah, dan Media Sosial Bisa Jadi Penyebabnya

Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Ternyata faktor teknologi, orangtua yang overprotektif, dan juga ujian sekolah yang menyebabkan mereka mengalami tingkat stres yang lebih tinggi. Hal ini jelas berhubungan erat dengan meningkatnya kecemasan.

Salah satu pemicu lainnya adalah media sosial. Karena dengan adanya media sosial seseorang akan membandingkan hidupnya dengan ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang lainnya. Dan orang yang menghabiskan waktunya dengan sosial media cenderung menjadi lebih stres dan cemas karena mereka akan membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Mengambil Keputusan Berdasarkan Pilihan Sendiri juga Lebih Beresiko Membuat Seseorang Jadi Obsesif dan Merasa Cemas

Seorang psikolog yang tinggal di London, Pieter Kruger, menyetujui bahwa orang-orang yang dipaksa menjadi arah tertentu dalam hidupnya akan berakhir menjadi lebih tangguh dan tidak cemas karena mereka tidak perlu mengkhawatirkan perihal keputusan yang bisa saja salah.

Karena ketika seseorang dipaksa melakukan sesuatu dan ternyata keputusan itu salah, maka dia bisa menyalahkan siapa pun yang dia suka. Hal itu terjadi sebaliknya, jika seseorang mengambil keputusan berdasarkan pilihannya maka seluruh tanggung jawab dibebankan di pundaknya dan beresiko meningkatkan kadar kecemasannya.

“Kita menjadi jauh lebih obsesif karena kita ingin membuat keputusan yang tepat setiap waktu,” kata Kruger.

Kabar Baiknya, Ada Sebuah Lagu yang Disebut-sebut Dapat Mengurangi Kecemasan

Mengobati kecemasan biasanya melibatkan obat-obatan. Beberapa orang suka menggunakan metode holistik seperti yoga, meditasi, hingga pijat. Sedangkan terapi musik yang sementara tersedia, tidak umum digunakan. Dan ada kabar baik datang dari para ahli syaraf dan peneliti Mindlab Internasional yang mengatakan bahwa mereka telah menemukan sebuah lagu tertentu yang membantu rakyatnya mengurangi kecemasan mereka hingga 65%.

Para Ahli Mengklaim Lagu “Weightless” Bisa Mengurangi Produksi Kortisol dan Membuat Orang Tertidur Bahagia

Lagu, yang disebut “Weightless,” diciptakan khusus untuk membantu menginduksi keadaan menjadi sangat santai. Kelompok yang menciptakan lagu tersebut, Marconi Union, berkolaborasi dengan terapis suara untuk meneliti kerajinan kombinasi sempurna dari harmoni, irama, dan garis bass yang akan menghasilkan produk jadi dramatis menenangkan. Efek yang didapatkan ketika mendengar musik tersebut, tidak hanya tekanan darah dan detak jantung yang lebih rendah, tetapi juga mengurangi produksi kortisol, hormon pemicu stres.

Para ahli mengklaim bahwa pengaruh lagu ini begitu kuat sehingga banyak orang yang menemukan diri mereka tertidur dengan rasa bahagia dan rileks. Serta terbangun dengan perasaan dan pikiran yang lebih tenang dari biasanya. Karena efek yang begitu menenangkan, para ahli tidak menyarankan untuk mendengarkan musik tersebut dalam kondisi sedang mengendarai kendaraan apa pun.

Coba dengarkan lagunya! Dan sebarkan jika itu membantu kamu untuk bisa mencapai tingkat relaksasi yang tinggi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top