Spirituality

Cinta Tak Perlu Dipaksakan, Jangan Halangi Kebahagiaanmu

Sesuatu yang bersifat sementara, bukan berarti  tak bermakna. Demikian juga dengan sebuah hubungan. Memang sulit sekali untuk menerima kenyataan bahwa suatu hubungan harus berakhir, tapi apakah mempertahankannya menjadi pilihan yang tepat? Apalagi bila kamu tahu hubungan tersebut tidak akan berakhir di jalan yang kamu inginkan.

Jangan Karena Takut Sendiri, Kamu Mempertahankan Hubungan yang Sudah Rapuh

Kembali sendiri lagi setelah lama berpasangan memang tidak menyenangkan. Terbiasa ada yang menemani, memberi perhatian. Tapi bukan berarti karena hal ini kamu harus mempertahankan rasa sakit berada di hubungan yang tidak membuatmu bahagia lagi. Percayalah, bahwa sendiri itu lebih baik daripada berdua tapi tidak bahagia.

Semua Teman-Teman Sudah Menikah, Tapi Aku Putus Lagi..

Pernikahan bukanlah perlombaan. Statusmu bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan. Bila saat ini waktumu untuk sendiri, maka nikmatilah. Semua orang memiliki masanya masing-masing, akan tiba juga saatmu untuk berbahagia bersama pasanganmu nantinya. Tentunya hal ini harus dimulai dari keberanianmu untuk menghentikan diri memaksakan cinta yang tidak seharusnya lagi dilanjutkan.

Jangan Halangi Dirimu Menemukan Cinta yang Lebih Baik

Saat kamu mati-matian mempertahankan hubungan yang sudah tidak bisa lagi dilanjutkan, kamu sebenarnya menghalangi dirimu untuk kebahagiaan yang lebih baik. Kamu tidak tahu kan, di luar sana ada orang yang siap memberikanmu cinta yang layak kamu dapatkan, hubungan yang akan membuatmu lebih bahagia? Ayo beranikan dirimu, sudahi hubungan yang tidak membuatmu bahagia demi kebahagiaan dirimu sendiri di masa depan.

Kesedihanmu Akan Segera Berganti dengan Kebahagiaan Bila Kamu Berani Memulai Langkah Baru

Tidak mungkin tidak sedih saat mengakhiri suatu hubungan. Semua kenangan yang kamu miliki bersamanya, itu akan tetap ada di hati dan pikiranmu. Tapi biarkanlah itu jadi masa lalumu, nikmati semua kesedihan itu sekarang. Berani memulai langkah baru, maka kesedihanmu akan segera berganti dengan kebahagiaan. Hidup terus berputar, kamu tidak mungkin akan berada di posisi sedih terus menerus. Pelangi akan hadir setelah hujan badai, dan ketika bahagia, kamu akan menyadari kesedihan itu perlu untuk jadi bahan pelajaran di hubungan selanjutnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Spirituality

Pertanyaan Pada Diri Sendiri, Sudahkah Kita Bersyukur Untuk Hari Ini?

Bersyukur itu mudah dikatakan tapi sungguh, tak mudah dilakukan. Karena kadang kita terlalu sibuk memperhatikan apa yang tidak kita miliki. Sekaligus juga kita kerap terpana dengan yang sudah dimiliki orang lain.

Sesungguhnya hal tersebut wajar. Kita memang dititipkan nafsu yang mendorong kita menginginkan hal yang belum kita miliki. Namun kalau tak dikontrol hal itu bisa saja mengkonsumsi kepribadian kita. Malah nanti kita selalu merasa kurang dan kosong.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak. Merenung memikirkan apa yang membuat kita berada di sini saat ini. Tak perlu merogoh jauh ke belakang atau menatap jauh ke depan. Cukup mensyukuri hari ini.

Hidup Dengan Keluarga Yang Saling Menyayangi Dan Lingkungan Yang Aman

Berada diantara keluarga yang saling menyanyangi membuat kita lebih giat untuk menghitung berkah yang sudah kita terima, lihatlah mereka yang kehilangan orang yang disayangi dalam hidupnya entah itu karena kesakitan, maut atau direnggut oleh bencana alam di lingkungannya. Kehilangan orang yang disayangi dalam hidup menjadi penderitaan batin yang tak tertandingi, bahkan membayangkannya saja kadang sudah membuat hati kita tercabik. Bersyukurlah kita yang masih hidup bersama dengan keluarga yang lengkap dengan nyaman.

Punya Tempat Tinggal Dan Bisa Makan Setiap Hari

Berterimakasihlah kepada sang pemberi hidup karena memberikan kita rumah untuk tinggal dan bisa makan setiap harinya, bandingkan dengan mereka yang sama sekali tidak memiliki rumah untuk tinggal. Berpindah-pindah hanya untuk merebahkan tubuh yang kelelahan, berjuang bertaruh nyawa untuk memenuhi rasa lapar akan sesuap nasi.

Tapi kita tak pernah menganggap hal ini penting. Bahkan masih sering mengeluh dan khawatir ke orang lain, soal apakah kita bisa makan esok hari.  Kita perlu ingat budayawan Sujiwo Tejo khawatir besok tak bisa makan saja, itu sudah menghina Tuhan. Bukankah ini saatnya kita mensyukuri apa yang ada di depan meja makan kita saat ini?

Mendapat Kesempatan Merasakan Pendidikan Dan Memiliki Pekerjaan

Percaya atau tidak memang tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama dalam hidup, kesempatan untuk merasakan pendidikan salah satunya. Kita harus mensyukuri hal ini dengan memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya karena tak semua orang bisa merasakan pendidikan yang sama. Sebagian dari mereka bahkan tak pernah tau apa itu pendidikan yang sebenarnya, mereka tidak seberuntung kita yang bisa mendapatkan pendidikan bahkan hingga ke pekerjaan.

Selalu melihat hidup oranglain yang terlihat sempurna dan membandingkannya dengan hidup kita hanya akan membuat kita banyak mengeluh dan meminta. Yang sadar atau tidak kita sering kali lupa jika masih ada orang yang tidak seberuntung kita. Bersyukurlah untuk hidup dengan segala kelebihan dan kekurangannya, akuilah bahwa segala yang ada dalam hidup kita adalah hal yang patut untuk disyukuri karena tak semua orang bisa mendapatkan apa yang kita miliki sekarang ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Inspiration

Bebaskan Dirimu, Mulailah Hidup Tanpa Tergantung Pengakuan Orang Lain

Mencari pengakuan dari orang lain adalah kecanduan yang sangat berbahaya. Hal ini begitu adiktif, dan saat kamu mulai melakukannya, kamu akan ingin mengulanginya lagi dan lagi. Saat kamu butuh pengakuan dari orang lain, kamu memberi nilai pada opini mereka dibanding menghargai dirimu sendiri. Pendapat orang lain jadi lebih penting dari dirimu, dan inilah yang menjadikan hal ini pengalaman yang menyakitkan. Kamu jadi tidak bisa memutuskan apapun dalam hidupmu tanpa mendapat pengakuan dari orang lain. Akibatnya, kamu jadi mengorbankan mimpi-mimpi dan ambisimu demi pengakuan mereka.

Terus Mencari Pengakuan Orang Lain Membuat Dirimu Jatuh ke Lubang Kenegatifan

Akibat terus mencari pengakuan orang lain, kegiatanmu sehari-hari jadi menurun. Kamu malas melakukan hal-hal yang penting, karena takut dan khawatir akan pendapat orang lain mengenai apa yang kamu kerjakan. Ini mencegahmu mencapai hal-hal baik dalam hidup. Bila kamu berhasil mengatasi hal ini, dan melakukan apapun yang kamu sukai tanpa perlu pengakuan dari orang lain, kamu akan merasa lebih bebas. Hidupmu akan terasa lebih ringan, karena kamu akhirnya terlepas dari rasa ingin diakui.

Mulailah Menerima Dirimu Apa Adanya

Mencari pengakuan dari orang lain biasanya diawali dengan kurangnya rasa percaya diri. Selalu merasa dirimu kurang, sehingga butuh pendapat orang lain untuk membuatmu merasa lebih baik. Percayalah, dirimu itu baik apa adanya. Semua keputusan-keputusan yang kamu buat dalam hidup adalah yang terbaik untukmu, dan tidak ada seorangpun yang berhak menghalangimu mencapai yang terbaik, begitu juga dirimu sendiri.

Perlahan, Jalani Hidup Tanpa Perlu Pengakuan dari Orang Lain

Tak perlu terburu-buru. Secara perlahan, kamu pasti bisa memulai kembali hidupmu tanpa perlu pendapat dari orang lain. Ketika membuat keputusan dalam hidupmu, cek sendiri dengan dirimu apakah itu keputusan yang baik, bukan menanyakan kepada orang lain. Ingatlah itu adalah pilihanmu, dan hanya kamu yang berhak untuk memberikan pengakuan untuk dirimu sendiri.

Percayalah, hidup tanpa tergantung dengan pengakuan orang lain akan membuatmu terasa lebih ringan dan bebas. Lambat laun, percaya dirimu akan kembali dan kamu akan menjadi pribadi yang kuat dan tangguh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Spirituality

Hidup Memang Sebuah Pilihan, dan Saat Rasa Sesal Menghampiri atas Pilihan yang Sudah Ditetapkan.

Aku tau hidup ini adalah anugrah dari Tuhan, terlepas dari menyenangkan atau membahagiakan dalam setiap perjalanannya. Namun ada yang aku tak tau mengapa Tuhan memberikan beberapa pilihan dalam hidup yang aku jalani, apakah ini bentuk kasih sayangnya yang lain? Sehingga aku bisa bebas menjalani hidup yang aku inginkan? Atau ini sebagai hukuman yang Tuhan berikan padaku, sehingga hidup ini menjadi begitu membebankan karena pilihan itu.

Manusia memiliki segala keterbatasan, terbatas untuk berpikir, terbatas pengetahuan tentang dunia dan segala aspeknya. Hal itu juga berlaku padaku tentunya, sehingga aku tak tau apa yang akan terjadi satu menit, satu bulan, satu tahun kemudian di dalam hidupku. Entah aku harus merasa ini adil apa tidak untukku, ketika Tuhan memberikan kesempatan untuk memilih namun aku tak tau apa yang akan terjadi di masa depan andaikata aku mengambil sebuah pilihan.

Dan apa yang harus aku lakukan jika ternyata pilihan yang aku ambil justru membuat semua hal menjadi semakin sulit?  Semua terasa salah dan rumit. Rasa sesak datang bersama sesal yang bergelut dihati. Seketika semua hal menjadi tak menyenangkan dan perasaan lelah datang lebih berat dari biasanya. Seketika aku sadar keputusan yang aku ambil adalah keputusan yang salah, aku telah gegabah mengambil tindakan. Perasaan ingin kembali ke masa lalu menyeruak hanya untuk menarik semua keputusan itu ataupun mengganti pilihanku.

Ingin Memutar Waktu Namun Aku Sadar Itu tak Ada Gunanya

Saat sesal datang memang sungguh menyesakkan. Pikiran untuk memutar waktu tak bisa ku hindari, keinginan untuk memperbaiki, seribu pengandaian menghampiri, dan ribuan sesal yang hanya bisa aku tangisi. Aku marah karena aku ingin pilihan yang aku ambil sesuai dengan segala ekspetasiku.

Namun aku sadar sekeras apapun keinginanku untuk memutar waktu, semua tidak akan berguna. Bahkan hanya akan membawaku ke dalam keterpurukan yang mungkin akan membuatku semakin lebih menyesal dengan segala hal yang telah aku pilih. Rasanya akan semakin menyiksa diri ku jika aku berandai-andai dan berharap waktu dapat di putar ulang serta membuang waktu yang aku punya dengan menyalahkan diri sendiri yang terlalu bodoh menentukan pilihan.

Meskipun Salah, Rasanya Aku Tak Perlu Menghukum Diriku Sendiri dan Membuat Semuanya Semakin Terpuruk.
Setelah pilihan yang aku ambil justru membuatku semakin terpuruk, dan aku ingin semuanya tidak menjadi semakin buruk. Aku tau aku salah dan mungkin bodoh karena gegabah mengambil keputusan, namun menyalahkan dan mengutuk diri rasanya tak akan membantuku menjadi lebih baik. Keputusan telah ditetapkan tetapi Tuhan masih memberimu kesempatan. Kesempatan untuk memperbaikinya, kesempatan untuk tidak melakukan kebodohan yang sama.

Rasanya hatiku akan lebih menerima jika aku mengakui kebodohan yang lalu, namun ingin memulai semuanya lagi dengan awal yang baru. Meskipun tak bisa mengulang waktu yang sudah lalu, setidaknya aku ingin masa depanku tak seburuk masa lalu. Kesalahan dan penyesalannya ini akan aku jadikan cambuk diriku untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi dari segala hal. Mungkin ini cara Tuhan mendidik diri ku, agar aku tidak hanya sekedar hidup namun juga bisa memaknai hidup.

Penyesalan ini Sungguh Menyesakkan, Namun Aku Ingin ini Bukan hanya Sekedar Kebodohan.

Rasa sesak justru mengintimidasi diriku setelah keputusan itu aku buat, dan aku tau keputusan yang aku buat adalah sebuah kesalahan. Tapi aku harus menghibur diri ku, bukankah setiap detik hidup kita itu atas izin-Nya. Bahkan kesalahan ini pun sudah di izinkan Tuhan untuk aku alami. Dan rasanya menyalahkan Tuhan juga bukan keputusan yang tepat.

Baiklah akan aku coba melihat hal ini dari sudut pandang lain, dan ternyata masih ada berbagai macam pesan yang Tuhan titipkan untuk ku karena mengambil pilihan yang aku anggap salah ini. Ternyata aku belajar banyak hal dari kesalahan itu. Aku belajar untuk tidak lagi gegabah mengambil setiap keputusan, aku tidak boleh mengambil keputusan beradasarkan nafsu sesaat. Dan aku harus libatkan Tuhanku untuk segala keputusan yang ingin aku buat.

Aku rasa ini adalah salah satu cara Tuhan memberikan cambuk atas segala hal yang aku lakukan, yang hanya terbatas dari ego. Seharusnya ini menjadikan aku semakin dewasa dalam segala hal, bukan justru menangisi kesalahan ini seperti bayi yang masih membutuhkan asi.

Karena Salah dan Benar Itu Hanya Sebatas Pemikiran, Aku Memilih Berdamai dengan Kesalahanku dan Menelan Semua Resiko itu.

Lelah rasanya jika aku hanya menyalahkan keadaan yang sudah terjadi. Sadar itu hanya membuatku semakin sulit, aku memilih untuk berdamai saja dengan keadaan. Tak sama dengan pasrah, karena aku tak ingin kejadian ini terulang. Akan aku ingat dan tak akan aku biarkan penyesalan ini terjadi lagi padaku. Hidup itu memang penuh dengan resiko, termasuk pilihan yang aku ambil juga menyimpan segala resikonya.

Tak bisa menghindar memang, jadi aku nikmati saja sesak itu datang sebagai bagian dari warna dalam hidupku. Aku yakin sesak itu akan hilang seiring berjalannya waktu dan perbaikan atas kualitas diriku. Dan ini bukan hal yang harus dilebih-lebihkan, mungkin Tuhan sudah menyediakan hal yang lebih indah dari apa yang sudah aku sesali.

Sesakit Apapun Hal itu, Masa Depanku Masih Memberikan Kesempatan Untukku Mengukir Kebahagiaan

Aku memang tidak bisa memutar waktu untuk kembali hadir dan merubah semua hal yang sudah berlalu. Tetapi masa depan masih menyediakan banyak ruang untukku memperbaiki banyak hal, termasuk kesalahanku di masa lalu. Mungkin tidak bisa memperbaiki sepenuhnya, setidaknya aku masih bisa kembali berdiri dan terus berusaha untuk kebaikan dan kebahagiaan hidupku di masa depan.

Masih banyak orang yang lebih sedih ataupun lebih bahagia hidupnya dari yang aku jalani saat ini. Dan lagi-lagi ini adalah pilihan, apakah aku ingin meratapi kesalahan atau aku berdiri untuk memulai lagi. Luka itu mungkin masih ada, rasa sesal mungkin masih menghantui tetapi kebahagiaan tak bisa hadir jika tak pernah aku ciptakan. Aku tak pernah tau apa yang akan aku hadapi di masa depan, akan berapa banyak lagi pilihan yang hadir dan akan berapa banyak lagi penyesalan yang akan aku rasakan.

Tuhan memang tak pernah menjanjikan kemudahan dalam setiap kehidupan, namun berjanji akan selalu ada untuk orang-orang yang percaya dengan kuasa-Nya. Segala rasa yang ada jadikan itu sebagai bagian dalam hidup, tawa, tangis, dan segala perasaan yang dirasakan menjadikanmu menjadi manusia yang semakin baik lagi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top